Soeharto Pernah Dipuji Abah Guru Sekumpul



SOEHARTO, mantan Presiden RI kedua oleh sejumlah tokoh luar negeri dianggap satu kepala negara yang cukup lama berkuasa dan tentu saja memiliki pengaruh besar bagi Indonesia dan dunia.

Berkuasa sejak 1967 dan lengser pada 21 Mei 1998, hingga meninggal dunia 27 Januari 2008, perbincangan tentang salah satu tokoh sentral bangsa ini dan negara-negara Non Blok selalu menarik. 

Organisasi negara-negara Non Blok ialah organisasi yang mendorong perdamaian dunia dan keadilan ekonomi di tengah persaingan negara-negara super power Uni Soviet (pemimpin Blok Timur/Pakta Warsawa)  dan Amerika Serikat (Blok Barat/Nato).

Menurut M Noor, salah satu khadam Syaikh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Abah Guru Sekumpul (wafat 10 Agustus 2005), ketika Soeharto mengumumkan pengunduran diri di Istana Negara, maka berita itu juga diperhatikan dengan seksama oleh Abah Guru Sekumpul.

"Kala itu, saya kebetulan mendampingi beliau (Abah Guru Sekumpul). Begitu selesai Soeharto mengumumkan pengunduran diri, Abah Guru Sekumpul ada memberi komentar pendek namun berkesan bagi saya," ujar M Noor yang sekarang menjabat Manajer Gallery Al Zahra Sekumpul itu.

Menurutnya, ulama kharismatik itu menyampaikan kepadanya, "Perhatikan Nak, beliau (Presiden Soeharto) itu ternyata tidak cinta jabatan (dunia), karena mau mengundurkan diri dari jabatannya."

Hal itu merupakan salah satu kebaikan dari Presiden Soeharto yang ternyata lebih mencintai keutuhan bangsa dan negaranya, daripada jabatannya sendiri. 

Bahkan M Noor mengungkapkan banyak hal yang tidak diketahui orang banyak bahwa secara diam-diam, Seoharto beberapa kali menelepon Abah Guru Sekumpul untuk meminta nasihat terkait tugas-tugasnya selaku kepala negara dan kepala pemerintahan.

Salah satu hal yang paling membuat takjub dunia manakala Soeharto di tengah berkecamuknya perang saudara di Yugoslavia, nekat berada di negara tersebut untuk memotivasi perdamaian, 13 Maret 1995. Bosnia yang kebanyakan berpenduduk muslim saat itu terancam remuk redam dihantam serangan mantan saudara senegaranya, Serbia. Di tengah perang, ternyata Soeharto membawa misi perdamaian dengan bertolak ke daerah perang.

Nyatanya, Soeharto yang tanpa rompi anti peluru, ada di tengah-tengah masyarakat Bosnia, sementara tentara perdamaian semua memakai rompi anti peluru. Siapa sangka, ternyata itu atas saran dan masukan dari Abah Guru Sekumpul. Soeharto sangat percaya dengan nasihat serta doa Abah Guru Sekumpul.

Menurut M Noor, Abah Guru Sekumpul lah yang memberi masukan kapan Soeharto terbang ke sana, dan mesti tidak perlu memakai rompi anti peluru. 

Padahal di dalam berbagai tulisan bersejarah, paspampres dan perwira PBB semua memakai rompi anti peluru di tengah ancaman penembak jitu yang berada di sekitar Bandara Sarajevo tempat pesawat Kepresidenan mendarat.

Komentar