Antara Kecerdasan Nabi Sulaiman dan Kasus Amplop Dewan



NABI Daud dan Nabi Sulaiman AS adalah bapak-anak. Keduanya merupakan utusan Allah kepada Bani Israil.

Nabi Daud juga merupakan pemimpin kaumnya. Setiap orang yang memiliki sengketa terhadap orang lain biasanya akan meminta keadilan kepada rasul penerima Kitab Zabur itu.

Suatu hari, Nabi Daud menerima laporan tentang seorang perempuan muda yang telah diperkosa. Perempuan itu adalah seorang tunanetra dan tak bisa berkata dengan jelas.

Para ibu yang menjadi tetangganya baru mengetahui keadaan menyedihkan wanita muda itu. Akhirnya, tahulah mereka bahwa ia telah diperkosa oleh banyak lelaki.

Ada empat pria yang menjadi tersangka. Nabi Daud lalu memanggil mereka semua untuk diadili.

Tak satu pun di antara mereka mengaku telah memperkosa perempuan itu. Sementara, satu sama lainnya saling berteman. Mereka semua kompak menuding, perempuan itu telah diperkosa oleh seekor anjing.

Nabi Sulaiman mendengar majelis sidang ini. Di ruangan terpisah, ia lantas berkata kepada ayahnya.

"Wahai ayah, biarkan aku yang mencari tahu siapa pemerkosa perempuan itu," kata Sulaiman--saat itu usianya masih belasan tahun.

Nabi Daud mengizinkan putranya itu untuk mengambil keputusan. Sebab, ia mendapatkan ilham, Nabi Sulaiman dapat memutuskan perkara seadil-adilnya, meskipun sang korban buta dan tak dapat bersaksi.

Nabi Sulaiman kemudian berinisiatif menginterogasi masing-masing tersangka secara terpisah. Setiap tersangka yang sudah diperiksa kemudian ditempatkan di ruangan yang berbeda.

Masih saja tiap tersangka membual, si pemerkosa korban adalah anjing. Namun, masing-masing mereka berbeda keterangan dalam menjawab pertanyaan sederhana dari Nabi Sulaiman: "anjing itu berwarna apa?"

Tersangka yang pertama berkata, anjing itu berwarna cokelat. Tersangka kedua dan ketiga masing-masing secara terpisah menyatakan anjing itu berwarna putih dan hitam. 

Sementara, tersangka keempat bilang, anjing itu kuning warnanya. 

Setelah pemeriksaan selesai, Nabi Sulaiman kemudian mengumpulkan lagi keempat orang itu dalam satu ruangan.

"Bagaimana pendapat kalian tentang anjing yang memperkosa perempuan itu?"

Mereka menjawab serentak, tetapi "warna-warni." Karena terbongkar kebohongannya, mereka pun mengakui, benar telah memperkosa wanita malang itu. Mereka pun mendapatkan hukuman rajam.

Memang kurang tepat membandingkan Nabi Sulaiman dengan Kejari Banjar. Aparat hukum di Kabupaten Banjar dipimpin Kajari M Bardan ini tidak berhasil membuktikan asumsi awal kalau di dalam amplop yang dibagikan Rahmadi pada Rabu 6 April 2022 di sela rapat paripurna DPRD Banjar diduga uang.

Menurut Bardan, sejak 15 April 2022 pihaknya telah mengundang untuk diwawancarai 13 orang yang diduga terlibat dalam kaitan amplop tersebut. 13 orang tersebut antara lain, Aslam (setwan) diklarifikasi pada tanggal 18 April 2022, Rahmadi (wartawan) 19 April 2022, Mulkan (anggota DPRD Banjar) 20 April 2022, Mardani (anggota DPRD Banjar) diklarifikasi pada 20 April 2022. 

Kemudian Marbawi (anggota DPRD Banjar) 21 April 2022, M Zaini (anggota DPRD Banjar) 21 April, Safariansyah (jurnalis) 22 April 2022, Derwana (anggota DPRD Banjar) 22 April 2022, Rofiqi (Ketua DPRD Banjar) 25 April 2022, Rizani Anshari (Waket DPRD Banjar) 26 April 2022, Zacky Hafizi (Waket DPRD Banjar) 26 April 2022, Abdurrahman (anggota DPRD Banjar) 27 April 2022 serta Hamdan (anggota DPRD Banjar) 27 April 2022.

Bahkan, setelah dikonfrontir ke-13 itu orang pada 18 Mei 2022, hampir semuanya mengaku kalau isi amplop adalah berkas alat kelengkapan dewan (AKD), bukan uang. Sekali lagi, Kejari Banjar bukan Nabi Sulaiman. 

Barbuk yang disampaikan di depan jurnalis saat pers rilis, 23 Mei 2022, berkas yang diperlihatkan juga berlipat-lipat dalam amplop, sebuah keanehan memang. Kebiasaan jika berkas itu disusun rapi tidak berlipat, dan dimasukkan ke dalam map. Barulah map itu jika bersifat rahasia dimasukkan ke dalam amplop khusus persegi panjang yang seukuran map panjang dan lebarnya.

Adapun amplop yang terekam saat skors paripurna diduga amplop yang biasa digunakan pihak bank memasukkan uang. (ap)

Komentar